.

JC Suspension - Rebound For Race : OPSI BARU MENGEJAR PODIUM ONEPRIX, DI TENGAH KLIMAKSNYA INOVASI TUNER

Ajang supremasi kompetisi tertinggi di tanah air, kembali digelar di sirkuit Sentul, Bogor pekan silam. 

Telah menjadi babak baru, tapi bukan lanjutan dari sequel episode sebelumnya. 

Kalau memang menjadi sequel lanjutan, pasti kuat beraroma panas dan sengit. 

Tapi di seri ini, antar team sama-sama saling memprediksi, lantaran pandemi yang bikin proak-poranda profil team yang berlaga.

Daya gedor 1, 2, 3 dan 4 rider jadi merosot, bahkan fenomena kuda hitam justru kian mengemuka. 

Sudut pandang dan sosialisasi pola hidup new normal jadi pengaruhnya. 

Sponsor sekelas pabrikan dan co sponsor, tak bisa berbuat banyak, apalagi pasang tarjet. 

Akhirnya merujuk ke data akhir riset yang menjadi acuhan dan pedoman, performa kuda besi.

Selebihnya, dihubungkan profil stamina rider, terkait jaminan kondisi fisik dan riwayat kesehatan.

 

Maka, Oneprix usai pandemi atau putaran ke-2 ini (18/9), lebih pantas menjadi sesi saling prediksi dan intip kekuatan antar team. 

Sebab, antar tuner dan manager, dari pengaruh pandemi sama-sama tak mengantongi data kekuatan team sebelah.

Hingga berujung pada optimalisasi di sesi free practice. Acuhan menembus red zone limit RPM diintruksikan oleh tuner ke rider.

 

Sesi free practice selalu berjalan demikian. Berharap durability dan performa mesin, tak lagi menjadi teka-teki atau misteri bagi tuner.

Hasilnya antar team tetap berimbang, soal kanuragan yang digelontorkan dalam up grade performa mesin, hingga data option part racing yang disematkan.

"Di sesi puncak riset dan up grade performa mesin ini pula, tuner dan rider saling terpacu untuk sama-sama meminimalisir kesalahan, "sorot Janal Chunk Direktur JC Suspension.

Lantas, fenomena ini yang dinilai JC Suspension cukup strategis, untuk terjun dan berkiprah menggairahkan Oneprix.

Tentu saja, dengan membawa segudang inovasi terbarunya. Yaitu suspensi depan adjustable.

"Dilengkapi dengan klik, untuk mempersingkat atau mensederhanakan setingan rebound dan kompresi, sesuai kebutuhan dan karakter rider, "jelas Bayu Chief Mekanik JC Suspension.

Suspensi tipe ini, telah diketok dan dipatenkan mengusung brand "Rebound For Race".

"Saat ini telah menjadi opsi alternatif, selain beradu kualitas option part racing dan akurasi data modifikasi mesin, "sebut Gombloh Field Manager JC Suspension.

Kabar aktual, melalui Rebound For Race ini, rider bisa merevisi gaya balap makin presisi, sempurna diolah ke catatan waktu lebih singkat.

Satu putaran lap, kendati selisih angka di belakang koma, tapi cukup signifikan berpengaruh pada position rider.   

Beberapa kuda besi yang ditangani tuner dan pacuan rider tim papan atas telah memakainya, seperti H. Putra, Antok Fast Tech Jogja, Boy Arbi dan Acos Kabochi.

Melalui serangkaian komunikasi dan sesi test case dengan Team JC Suspension, berharap bisa menghadirkan terjadinya perubahan kompetisi.

Bahkan rider potensial Rey Ratukore, ikut menguji coba suspensi Rebound For Race dan dikawal ketat oleh Team JC Suspension.

Hasil adaptasi dan input Rey, rubahan tipikal rebound dan kompresi cenderung kenyal ke keras.

Rey jadi berani late braking makin dekat dan terus mendekat titik cornering. Racing line jadi kembali direvisi, hasil dari inovasi gaya balapnya.

Hingga catatan waktunya makin tipis dan stabil di setiap lap-nya.   

Termasuk rider Boy Arbi, suspensi Rebound For Race, yang diklaim sebagai buah karya anak bangsa, berujung pada revisi gaya balap Boy.

Boy jadi lebih berani meluncurkan aksi manuvernya paling singkat.

Boy cocok dengan setingan kenyal, cenderung empuk. Rasionalnya, center of gravity singka bergeser ke depan.

Memungkinkan membentuk radius tajam, saat dipakai manuver. Gaya balap yang menurut Boy tak memungkinkan, kini bisa terealisasi.

Rahasianya, ya pakai Rebound For Race ! Ah sampean buka kartu.

Masih tentang Boy, hingga berujung pada makin menurunya catatan waktu Boy, di setiap lap-nya.

Opsi amunisi performa kuda besi ini, sontak mengundang perhatian awak team balap yang berlaga.

Memang lepas dari prediksi divisi teknis, kalau suspensi bisa menekuk racing line makin singkat, di tengah klimaksnya fase riset yang dihadapi tuner.

Paling mencengangkan lagi, Rebound For Race dengan adjustable klik-nya, mudah direvisi di setiap race, seiring perubahan suhu aspal.

"Erat terkorelasi kemampuan performa brand tapak kaki, saat dihadapkan suhu aspal mulai tinggi, "analisa Bayu.

Adjustable klik bisa menerjemahkan sistematis, dalam mentolerir soal traksi tapak kaki.

"Jadi tak lagi feeling dan perkiraan, atau ribet mengurai tekanan angin ban, "tegas Gombloh.

Team Marketing dan Promosi produsen ban jadi ikut tersenyum, dari kejauhan. Kini, kemampuan compound tapak kaki, terback up kerja suspensi yang sistematis, sesuai takaran hasil produksi JC Suspension.

Point ini pula, yang optimis bisa membangun energy positif rider dan kembali terbangunya mental juara.   enea/foto : JC Suspension